Hmmm….. Pergi ya…..
August 15th, 2007 by afnisalmi(…….. Engkau meninggalkanku disini, dan aku terhempas kembali di pinggir kaki langit yang menawarkan akan pengharapan besar …….)
Pada akhirnya terbentanglah sebuah jarak telah menyeret langkah untuk saling menjauh dengan gitirnya dan waktu akan terus mengurung dalam keangkuhanya yang tidak tertembus oleh hasrat yang terus menyala nyala, Ribuan ton bergelayut dan menjadi beban di mata kaki, memaksa hati untuk tinggal dalam hangat pelukan kasih sayang di ruang persembunyian. Tetapi tidak, pintu pintu telah menawarkan jalan untuk segera dilalui, dilewati dan ditinggalkan dalam diam yang meradang ketika ribuan kata kata menjadi prematur di tenggorokan, tersekat perih dalam jiwa. Tinggal pandangan mata mengabur ditenggelamkan keharuan, dan kepala yang berat dibanduli kehilangan yang tiba tiba. Shock…. sangat.
Kemudian menarilah aneka kejadian saat pertemuan dan perpisahan itu terjadi yang mengiris iris kenangan, menempelkan lebih dalam lagi dalam siluet kesedihan dan sukacita di bingkai dunia, dunia yang tak bertuan yang hanya berisi dua kupu kupu melanglang sekejap dari gerbong panjang kehidupan masing masing. Air mata tertabur sepanjang jalan, menyaru bagaikan embun yang luruh menampar muka setelah berspekulasi dengan debu kota dini hari. Betapa rapuh dan sunyinya kesedihan yang menghuni pikiran oleh sebab tertikam sebuah perpisahan yang begitu menggetarkan seluruh isi kalbu….…
Persimpangan yang itu itu juga akhirnya membeku dalam penantiannya, menghitung berapa banyak hati diceraikan dan dipenggal dari kekasihnya. Menebar kecemasan bagi sesiapa saja yang tinggal dan menunggu datangnya sesuatu yang mengangkut jutaan rasa. Ciuman terakhir, sentuhan terakhir dan bisikan terakhir, sepertinya menjadi akhir sebuah cerita. Entah kapan ada perjumpaan lagi di mayapada ini, sementara tak pernah ada bisikan terakhir yang menandai semuanya. Diatas sebuah sampan bernama peradaban, hidup melayarinya mengikuti aturan yang tertebar dalam udara hampa ini. Waktu membuatnya terus bergerak, berkembang dan hidup menumbuh, melahirkan cerita baru, sejarah baru dan harapan yang baru juga dapat tragedi tragedi baru.
Dan sekiranya telah menjadi sebuah adat bahwa bumi masih terus bergerak, serasa sangat mustahil berada di satu titik ketetapan dan statis dalam pemikiran., karena yang terjadi sekarang adalah buah dari sebuah perubahan dalam kehidupan, kita memilih dan Kita hanya mengalir, menumpang diatas sebuah sampan dari jalinan pengalaman untuk mengikuti arus yang memberi banyak ajaran tentang hidup dan cara merasakannya. Hari esok bukanlah janji, tetapi adalah sebuah arena pergulatan waktu yang berisi teka teki. Betapa labil hidup manusia, berubah dan berkembang sebagai ekses hidup yang dikendalikan oleh dua warna kontras; hitam dan putih yang melambangkan keinginan dan ketidak inginan. Dan semua bercampur dalam satu konsep bernama alam kenyataan, buah dari harapan yang terkadang memiliki racun penuh duri, dan membuat sebuah luka baru dalam diri.
Inilah hidup, dengan hati sebagai pemandunya. Berjalan, mengalir, melayang, terhempas dan mengapung lagi dalam kisaran waktu yang tak tertebak. Inilah rasa, bukti bahwa hidup sangatlah berharga untuk disia siakan…….
Terima kasihku padamu, yang setia mengingatkan dalam setiap kealpaanku, meski dia yang membawaku kesini telah pergi terbawa angin di musim ini. Mungkinkah kembali ?………………………